PENDIDIKAN YANG MENDUAKAN TUHAN

PENDIDIKAN YANG MENDUAKAN TUHAN
Oleh: Zunaidi Abdillah, S.Pd.SD.

Akhir-akhir ini, Bangsa Indonesia sedang dihadapkan dengan berbagai persoalan serius yang merongrong kehidupan berbangsa dan bernegara. Hampir setiap hari, media massa menyuguhkan berita kriminalitas seputar maraknya tawuran pelajar, bentrok antar suku, pembegalan, pencurian disertai kekerasan, pemerkosaan, korupsi dan seabrek berita negatif lainnya. Degradasi moral bangsa yang katanya arif dan menjunjung tata krama ini telah berada pada titik nadir. Salah-satu yang dikambinghitamkan adalah gagalnya pendidikan dalam segala aspeknya. Padahal jika mau berpikir adil, sebenarnya banyak faktor lain saling memengaruhi yang menyebabkan carut-marutnya moralitas bangsa ini.

Tujuan pendidikan sebagaimana termaktub dalam pasal 3 Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang bertanggung jawab. Tengoklah, begitu sempurnanya tujuan pendidikan, namun begitu timpangnya jika dihubungkan dengan kondisi riil kehidupan sosial masyarakat dalam kurun waktu terakhir.

Lazim diketahui, kemajuan pembangunan di banyak bidang tentulah tidak lepas dari generasi yang sehat, berilmu, dan cakap. Maraknya kejahatan, rendahnya moralitas, serta hal-hal negatif lainnya jauh dari kesan dilakukan oleh manusia yang beriman dan bertakwa serta berakhlak mulia. Kalaulah memang degradasi moral adalah kesalahan pendidikan, maka bisa dipastikan dalam pencapaian tujuannya akan memarginalkan penanaman tentang keimanan, ketakwaan, ketuhanan, dan akhlak.

Untuk itulah, dalam membangun kembali kebobrokan nilai, moral, dan mental generasi penerus bangsa, haruslah dimulai secara mendasar. Ibarat membangun bangunan, yang pertama kali harus diperhatikan adalah pondasi harus benar-benar kokoh. Kalau pondasi telah kokoh, maka bangunan apapun di atasnya akan tinggi menjulang tanpa kuatir roboh oleh terpaan topan atau badai. 

Pondasi untuk moralitas yang paling ampuh tak lain adalah kembali menomorsatukan Tuhan dengan mengakrabi ajaran agamaNya. Agama tak boleh diartikan secara artifisial berupa doktrin dalam tataran legal formal, apalagi hanya sebatas pengetahuan semata sebagaimana diajarkan di sekolah. Agama merupakan ajaran Tuhan, - baik melalui informasi kitab suci, ataupun amsal-amsal yang bertebaran di alam semesta, - harus benar-benar ditancapkan dalam sanubari anak, dimulai dari lingkungan keluarga. Diharapkan setelahnya akan melahirkan insan-insan yang beragama dengan benar, manusia-manusia yang berkeyakinan adanya Tuhan, dan mengerti bahwa setiap tindakannya akan dipertanggungjawabkan kelak di hadapan-Nya.

Membangun moralitas bukanlah tugas yang ringan. Untuk itulah, orang tua tak bisa dengan serta merta menyerahkan sepenuhnya pada sekolah. Adalah omong kosong jika pendidikan agama di sekolah, yang hanya 3-4 jam per minggu seperti tuntutan kurikulum, diharapkan dapat membentuk pribadi-pribadi yang militan memegang keyakinannya terhadap Tuhan jika tidak dibarengi dengan peran serta pihak-pihak lain. Maka, harus ada sinergi dari semua pihak, baik melibatkan guru, sekolah, masyarakat, dan terutama orang tua.

Yang harus diperhatikan, peran serta orang tua dalam mendidik anak-anak bahkan dimulai sebelum anak mengenal lingkungan sekolah. Keluarga adalah madrasatul ula. Orang tua adalah guru pertama dalam kehidupan anak. Peran guru sebagai ujung tombak dunia pendidikan tak akan berarti apa-apa jika tidak ada dukungan dari orang tua. Pada sisi lain, kehidupan sosial di masyarakat juga memiliki andil dalam memengaruhi perilaku anak. Maka, tak adil rasanya kalau hanya sekolah dan guru yang dipojokkan ketika ditemui penyimpangan moral dan pelanggaran norma-norma agama, susila dan dan hukum. 

Bagaimana tidak. Ketika anak di sekolah dididik dan digulawentah sedemikian rupa, namun mereka diracuni kembali oleh lingkungan sosial yang tidak sehat sepulang sekolah, baik dari lingkungan keluarga yang abai terhadap pendidikan anaknya, masyarakat, lebih-lebih dari tayangan televisi yang tak kunjung membaik dari hari ke hari. Bukankah tontonan televisi hari-hari ini mayoritas tontonan sampah yang tak layak dikonsumsi oleh anak yang sedang dalam masa tumbuh kembang? Tidakkah perilaku elit politik dan elit agama yang kerap dipertontonkan sama sekali tak bisa dijadikan suri tauladan?

Maka menurut hemat penulis, yang harus dilakukan bukan mencari kambing hitam ketika terjadi permasalahan dalam pendidikan, tapi berupaya bersama-sama untuk mencari jalan keluar. Salah-satu alternatif adalah dengan menghadirkan kembali Tuhan yang selama ini mungkin dinomorsekiankan. Tidak hanya di hati siswa, juga dalam hati para pendidik dan para orang tua, sehingga dalam melakukan pekerjaan senantiasa disandarkan pada keridhaanNya. Anak-anak hari ini membutuhkan keteladanan yang baik (uswatun hasanah) bukan melulu nasehat yang baik (mauidhoh hasanah).

Terkait pendidikan anak, menarik menyimak penuturan Emha Ainun Nadjib (2001). Menurutnya, kurikulum dasar pendidikan anak hanya ada dua, ialah ketakjuban dan tanggung jawab kepada Tuhan. Sesempat-sempatnya seorang guru, orang tua, atau siapapun yang terlibat dalam pendidikan anak menumbuh-kembangkan dua potensialitas rohaniah dan intelektual tersebut. Setiap kali berkomunikasi dengan anak, diusahakan agar mengarahkannya pada dua hal itu. Anak melihat air, angin berhembus, sebatang kapur, matahari bersinar, menatap, mendengar, dan mengalami gejala apapun selalu diajak mencenderungkannya pada kesadaran ketuhanan. 

Secara bersamaan, anak juga dilatih bertanggung jawab. Segala yang tersebar di alam semesta ini adalah milik Tuhan semata. Yang harus dilakukan guru adalah membangun kesadaran pada jiwa anak, bahwa yang berhak menentukan adalah Tuhan. Maka manusia harus taat kepada-Nya. Jika kedua hal tersebut telah tertanam dalam sanubari anak sejak dini, kelak ketika ia dewasa dan melakukan apa saja dalam kehidupan, semata-mata sedang menjalankan kegembiraan bertanggung jawab padaNya. Bukan lantaran taat pada guru, atau takut pada polisi atau bahkan negara.

Begitulah, dengan peran aktif semua pihak, diharapkan generasi emas yang dicita-citakan akan terwujud. Generasi yang mampu membawa Indonesia bersaing dengan negara-negara di dunia. Generasi yang siap mencapai puncak kejayaan tanpa kesombongan. Namun, jika persoalan moralitas ini tidak segera mendapat penanganan yang benar, sungguh negara ini sedang menghitung mundur datangnya sebuah kehancuran.(*)

Zunaidi Abdillah, pria kalem ini terlahir di Lamongan 16 April 1982. Dibesarkan di keluarga petani yang sederhana. Memulai karir mengajarnya sebagai GTT sejak tahun 2004 di SDN Wanar Kecamatan Pucuk. Kini sudah tahun menjalani tugasnya sebagai Guru di SDN Babatkumpul Kec. Pucuk. Selain kesibukannya sebagai guru dia juga aktif sebagai ketua di forum Operator Sekolah Kecamatan Pucuk.
Pria yang hobby minum kopi hitam ini banyak menimba pengetahuan tentang pendidikan, menulis, dan tentang apapun melalui teman-teman komunitasnya, mengalir dalam canda larut dalam cangkir-cangkir kopi.

0 Response to "PENDIDIKAN YANG MENDUAKAN TUHAN"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel