PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI MUSIK KERONCONG

Penguatan Pendidikan Karakter Melalui Musik Keroncong
*Slamet Supriyadi, S.Pd

Dewasa ini, maraknya perilaku amoral dalam masyarakat sangat berlawanan dengan cita-cita bangsa dan negara, yang menginginkan harkat dan martabatnya meningkat. Berbagai tindak kejahatan menjadi menu berita sehari-hari, mulai narkoba, perkosaan, ujaran kebencian di sosial media, dan lain-lain. Pelakunya beragam dari kalangan pelajar, oknum guru hingga oknum pejabat pemerintahan. Yang lebih tragis, pelaku kejahatan sekelas korupsi, kolusi, dan manipulasi kerap melibatkan manusia-manusia terdidik dan terpelajar dengan latar belakang pendidikan tinggi. Hal inilah yang menjadi tamparan keras bagi dunia pendidikan, yang seharusnya mencetak generasigenerasi baru yang lebih terdidik dan beretika.

Persoalan budaya dan karakter bangsa kini menjadi sorotan tajam di masyarakat. Berbagai alternatif penyelesaian diajukan seperti peraturan, undang-undang, peningkatan upaya pelaksanaan dan penerapan hukum yang lebih kuat. Alternatif lain yang banyak dikemukakan untuk mengatasi, paling tidak mengurangi, masalah budaya dan karakter bangsa yang dibicarakan adalah pendidikan. Pendidikan dianggap sebagai alternatif yang bersifat preventif karena pendidikan membangun generasi baru bangsa yang lebih baik. Sebagai alternatif preventif, pendidikan diharapkan dapat mengembangkan kualitas generasi muda dalam berbagai aspek yang dapat memperkecil dan mengurangi penyebab berbagai masalah budaya dan karakter bangsa.

Memang diakui bahwa hasil dari pendidikan akan terlihat dampaknya dalam waktu yang tidak sekejap mata, tetapi memiliki daya tahan dan dampak yang kuat di masyarakat. Kepedulian masyarakat mengenai pendidikan budaya dan karakter bangsa juga menjadi kepedulian pemerintah. Berbagai upaya telah dilakukan di berbagai direktorat dan terutama di unit Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Upaya pengembangan itu berkenaan dengan berbagai jenjang dan jalur pendidikan walaupun sifatnya belum menyeluruh. Keinginan masyarakat dan kepedulian pemerintah mengenai pendidikan budaya dan karakter bangsa, akhirnya berakumulasi pada kebijakan pemerintah mengenai
pendidikan budaya dan karakter bangsa.

Bahkan, beberapa bulan yang lalu, Presiden Republik Indonesia Joko Widodo mengesahkan Perpres nomor 87 tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Gerakan pendidikan dengan tujuan untuk memperkuat karakter peserta didik melalui harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir dan olah raga dengan pelibatan kerjasama antara satuan pendidikan, keluarga dan masyarakat sebagai bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM).

Salah-satu alternatif yang bisa dilakukan dalam upaya penguatan karakter bangsa adalah melalui jalur kesenian. Sebab, seni pada dasarnya merupakan bentuk keindahan yang diciptakan manusia melalui olah cipta, rasa, dan karsanya, sehingga seni tidak hanya mengandalkan intuisi dalam berkarya, akan tetapi juga mengolah rasa yang dikaitkan dengan domain kognitif, afektif, dan psikomotorik. Bung Karno pernah menyatakan, jika ingin menilai suatu negara yang telah maju peradabannya, maka lihatlah musiknya. Artinya setelah sistim sosial, ekonomi, pengetahuan dan teknologi, maka74 Antologi Esai Pendidikan perkembangan terakhir adalah seni, salah satunya adalah seni musik.

Memang, banyak genre atau jenis musik yangbe rkembang di Indonesia, salah satunya adalah  musik keroncong. Lantas, apa yang bisa dilakukan musik keroncong dalam membentuk dan menguatkan karakter bangsa? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, alangkah bijaknya kita menengok tentang keberadaan atau sejarah musik keroncong itu sendiri. Tidak berhenti sampai di situ, banyak hal tentangmusik keroncong yang mempunyai sisi po sitif dalam menguatkan karakter bangsa.

Bicara musik keroncong, tentu kita harus tahu sejarah keberadaan musik keroncong. Memang pada dasarnya, kebudayaan di dunia ini tidak ada yang benar-benar asli. Dalam proses perkembangannya, seluruh hasil kebudayaan akan melewati proses akulturasi yang saling memengaruhi. Termasuk ketika proses akulturasi yang terjadi pada musik keroncong, lahirlah musik keroncong yang memiliki
karakteristik, tata cara, aturan dan nilai-nilai estetika sebagai musik yang dikembangkan oleh bangsa Indonesia.

Orang Portugis ketika itu mengetahui, betapa lemah lembutnya nenek moyang kita menyambut kedatangan mereka,sehingga  ketika harus terjadi percampuran budaya, keroncong lahir dan mewakili kesantunan tersebut. Dengan mengambilidiom gamelan jawa, n amun memainkannya dengan alat-alat dari luar, betapa tolerannya nenek moyang kita. Musik keroncong telah menjadi bagian dari budaya musik bangsa Indonesia. Di dalamnya terdapat karakteristik yang mengandung nilai-nilai budaya bangsa Indonesia, menjadikan musik keroncong memiliki karakteristik tersendiri yang berbeda dengan musik lainnya. Nuansa liriknya berisi tentang kecintaan terhadap tanah air, perjuangan bangsa, cinta kasih sesama manusia, tentang keindahan alam, dan perjalanan hidup yang sarat makna.

Tengok misalnya, lagu-lagu keroncong seperti lagu keroncong tanah air, langgam keroncong Bengawan Solo, langgam keroncong Pulau Bali, Langgam keroncong Borobudur, dan masih banyak lagi. Lagu-lagu tersebut mengajarkan untuk mencintai tanah air dengan pemandangan alamnya, dan kekayaan budaya yang ada di negeri ini. Belum lagi, lagu Pahlawan Merdeka lebih mengedepankan jiwa nasionalis sebagai warga negara. Tak hanya itu saja, Gesang dengan lagunya Aja Lamis, juga terkandung nilai ajaran untuk tidak mudah menyakiti hati orang lain.

Tidak hanya lagu-lagunya saja. Musik keroncong mempunyai nilai kesantunan yang tinggi. Dalam penyajian musik keroncong, sampai hari ini tidak ada berita tentang perkelahian, kekerasan fisik atau tawuran dalam menikmati musik keroncong. Itu membuktikan bahwa musik keroncong mempunyai nilai karakter bangsa yang baik. Dalam pagelarannya, selesai membawakan lagu-lagu keroncong, apresiasipun ditunjukkan para penikmatnya. Meskipun, hanya tepuk tangan. Hal ini menandakan nilai menghargai, menghormati dan menjunjung tinggi nilai suatu karya seni.

Jikalau dikaji dari aspek dalam instrumen keroncong yang dihubungkan dengan pembentukan sembilan pilar karakter bangsa yang berasal dari nilai-nilai luhur universal, Suyanto (2011: 29), diantaranya sebagai berikut: Pertama, aspek filosofi, dalam instrumen musik keroncong secara harfiah merupakan wujud dari kehidupan manusia itu sendiri, karena jika dilihat dari bentuk dan irama instrumen musik keroncong dari bass bethot sampai dengan cak yang bentuknya paling kecil, maka dapat diumpamakan sebagai garis vertikal yaitu kehidupan manusia dengan Tuhannya. Hal ini sesuai dengan karakter cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya. Sedangkan garis horizontal merupakan kehidupan antara manusia dengan manusia, dapat diimplementasikan karakter kemandirian dan tanggungjawab, kejujuran, amanah, diplomatis.

Kedua, aspek pola ritme, merupakan interaksi antar instrumen musik keroncong yang dapat mengubah dari pergerakan akord, dengan irama cokekan, ke irama engkel, dan ke irama double/rangkep, maupun ritme break, merupakan situasi temporal yang mengalir sesuai perubahan ritmenya, sehingga para pemain keroncong secara musikal harus dapat merasakan antara instrumen satu dengan lainnya supaya musik yang dimainkan dapat membangkitkan rasa musikalitasnya. Hal tersebut sesuai dengan karakter hormat dan santun, dermawan dan kerjasama.

Ketiga, aspek kontrapung, pada pola interaksi antar instrumen musik keroncong dengan nada-nada yang dimainkan bass bethot dan cello, cuk dan cak saling berinteraksi satu sama lain, dalam artian saling mengisi maupun memberi ruang kosong. Hal tersebut merupakan situasi temporal yang mengalir sesuai perubahan ritmenya, sehingga para pemain keroncong secara musikal harus dapat merasakan antara instrumen satu dengan dengan lainnya, agar musik yang dimainkan dapat berinteraksi, baik antar pemain maupun penyanyinya secara menyeluruh. Mempunyai makna karakter
percaya diri, kerja keras, kepemimpinan dan keadilan.

Keempat, aspek harmoni, dalam musik keroncong pada dasarnya tidak hanya tergantung pada bentuk akord saja, tetapi juga mengenai teknik permainannya, sehingga antar para pemain ada saling keterkaitan satu sama lain dalam membentuk irama musik yang saling mengisi dan memberi. Kemampuan para pemain dalam menguasai akord harus terdengar seimbang, baik nada bass, cello, cuk, cak dan gitar. Di samping itu, adanya saling keterkaitan antar pemain dalam membentuk irama musik keroncong baik cokekan, engkel maupun doubel, merupakan kemampuan musikalitas dilihat dari aspek harmoni. Pola piker tersebut mempunyai karakterbaik, rendah hati, toleransi, kedamaian, dan kesatuan.

Begitulah, betapa berpengaruhnya musik keroncong dalam penguatan karakter bangsa. Melalui tulisan ini, diharapkan tumbuh penggiat seni musik keroncong mulai dari pemerintah, pendidik, tenaga kependidikan, peserta didik maupun lainnya. Keroncong bukan situs purbakala yang mati dan membatu. Ia adalah salah satu ruh yang dimiliki bangsa Indonesia sebagai pelengkap kebudayaannya. Ruh integritas sosial berupa kelembutan yang sarat tatak rama dan nilai-nilai luhur bangsa.(*)

0 Response to "PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI MUSIK KERONCONG"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel