PENGGUNAAN PERAGA TABEL PERKALIAN 2 SAMPAI 9

PENGGUNAAN PERAGA TABEL PERKALIAN 2 SAMPAI 9

PENDAHULUAN

 A. Latar Belakang Masalah

Sehubungan dengan  globalisasi di semua bidang kehidupan, sekolah diharapkan mampu memberi bekal  kepada anak didik  berupa pengetahuan dan ketrampilan yang amat dibutuhkan anak didik untuk memasuki era globalisasi tersebut. Sekolah Dasar sebagai bagian dari institusi pendidikan dan peletak dasar kemampuan ketrampilan siswa, dituntut mampu memberikan layanan yang optimal kepada siswa. Layanan kepada siswa tersebut dalam hal memberikan pengetahuan dasar kepada siswa sebagai bekal siswa melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi atau hidup bermasyarakat. 
Perkembangan teknologi modern didasari oleh Matematika sebagai ilmu universal. Matematika mempunyai peranan penting dalam berbagai disiplin ilmu dan daya pikir manusia. Perkembangan pesat di berbagai bidang teknologi, informasi, dan komunikasi juga tidak lepas dari perkembangan Matematika. Dalam kurikulum KTSP tahun 2008 pada latar belakang pengajaran Matematika disebutkan bahwa mata pelajaran Matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerja sama. Kompetensi tersebut diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetetif. 
Bertolak dari peranan dan manfaat Matematika terhadap perkembangan teknologi di berbagai bidang tersebut, sekolah dasar diharapkan  memberikan pembelajaran Matematika secara optimal sehingga tujuan dari pengajaran Matematika dapat tercapai. Kelas IV  sebagai salah satu  tingkat/jenjang di SD sebagai tingkat awal di kelas tinggi dituntut mampu memberikan dasar operasi hitung sebagai bekal  untuk menuju ke tingkat lebih tinggi yaitu kelas V maupun kelas VI. Kemampuan operasi hitung pembagian, khususnya pembagian cara bersusun sangat diperlukan siswa untuk landasan pengajaran matematika selanjutnya. Guru dituntut untuk mengupayakan keberhasilan pembelajaran Matematika seoptimal mungkin dengan menggunakan kemampuan dan potensi yang dimiliki, termasuk dalam hal ini materi operasi hitung pembagian cara bersusun. 
Kenyataan di lapangan kadang jauh dari harapan. Prestasi hasil belajar Matematika pada sebagaian besar siswa memperoleh hasil yang rendah. Siswa yang tidak lulus ujian kebanyakan karena tidak lulus pada mata pelajaran Matematika. Rendahnya prestasi belajar matematika tersebut dimungkinkan oleh persepsi siswa terhadap pelajaran Matematika. Sebagian siswa menganggap pelajaran Matematika adalah pelajaran yang menakutkan, menjadi momok bagi mereka. Ada juga yang sudah mengeluh bahkan merasa alergi ketika mendengar pembicaraan  atau mendengar  kata Matematika.   Tidak sedikit siswa menganggap pelajaran Matematika itu sulit dan membosankan. Mengenai keadaan pendidikan Matematika di SD, Hery Sukarman ( Fasilitator: 2004:48) mengemukakan bahwa pendidikan Matematika di tingkat  Sekolah Dasar masih memprihatinkan. Banyak siswa yang merasa takut , enggan, dan kurang tertarik pada pelajaran Matematika.  Pendapat ini tidak jauh dari kenyataan di lapangan. Jika dicermati ketakutan dan keengganan pada pelajaran Matematika itu berawal dari ketidakmengertian atau ketidakjelasan siswa pada materi pembelajaran Matematika sejak tingkat dasar dalam hal ini sejak duduk di SD. Pendapat ini didasari oleh kenyataan bahwa di SD lah peletak dasar Matematika yang  nantinya dikembangkan di sekolah yang lebih tinggi. 
Untuk mengubah persepsi siswa terhadap pelajaran Matematika, dari anggapan Matematika itu membosankan dan menakutkan menjadi Matematika itu mudah, mengasyikkan dan menyenangkan  perlu peran guru. Mengingat materi pembelajaran Matematika itu bersifat abstrak maka cara yang dipandang efektif adalah penggunaan alat peraga. Dengan alat peraga, sesuatu yang sifatnya abstrak bisa diubah menjadi lebih konkrit. Disamping itu dengan alat peraga siswa menjadi lebih aktif, pembelajaran lebih mengasyikkan dan menyenangkan sehingga siswa menjadi lebih bergairah.
Pemilihan alat peraga yang tepat sangat membantu keberhasilan pembelajaran Matematika. Alat peraga disamping ditujukan untuk dapat membantu memudahkan siswa menerima dan memahami materi pelajaran yang sedang diajarkan, juga diharapkan dapat membantu membuat kegiatan belajar mengajar menjadi lebih menyenangkan sehingga siswa lebih dapat memfokuskan perhatiannya pada proses pembelajaran. 
Pada kesempatan ini penulis menampilkan alat peraga berupa papan tabel perkalian 2-9 yang penulis buat dalam rangka membantu siswa untuk memahami pembagian cara bersusun.  Hal ini didasari pengalaman penulis sebagai guru kelas IV yang hampir selalu mengalami kesulitan ketika menjelaskan pembagian cara bersusun  kepada siswa. Sebagian besar siswa tidak segera memahami pembagian cara bersusun. Papan tabel perkalian 2-9 ini penulis kembangkan dari tabel perkalian yang sering dipakai yaitu tabel perkalian 1-10, dengan beberapa modifikasi untuk kepentingan pembelajaran pembagian cara bersusun. Walaupun begitu tidak menutup kemungkinan alat peraga ini digunakan untuk alat peraga  pembelajaran Matematika pada materi selain pembagian.

B. Rumusan Masalah 
Bagaimana penggunaan alat peraga  tabel perkalian 2-9 mampu meningkatkan keberhasilan belajar pembagian cara bersusun pada siswa  kelas IV SD Sumberejo tahun 2008/2009?
C. Tujuan Penelitian 
Meningkatkan keberhasilan belajar pembagian cara bersusun pada siswa kelas IV SD Sumberejo tahun 2008/2009. 

 D. Manfaat Penelitian
1. Bagi siswa
Siswa dapat lebih mudah mamahami pembagian cara bersusun dengan      menggunakan alat peraga papan tabel perkalian 2-9.
2. Bagi guru
Guru lebih mudah mengajarkan pembagian cara bersusun  kepada  siswa dengan menggunakan alat peraga tabel perkalian 2-9.
3. Bagi sekolah
Terbantunya sekolah dalam usaha pencapaian KKM (kreteria ketuntasan minimal) belajar siswa serta bertambahnya perbendaharaan alat peraga matemtika. 

 E. Ruang Lingkup        
Untuk membatasi permasalahan yang penulis ajukan dalam karya tulis PTK ini, maka perlu diperjelas tentang ruang lingkup penulisan. Pada dasarnya penulisan ini membatasi diri pada permasalahan dan usaha pemecahan masalah yang terjadi di SD sumberejo kelas IV tahun ajaran 2008/2009. Adapun masalah tersebut berupa kesulitan siswa memahami pembagian cara bersusun.  

 F. Kajian Teori dan Pustaka
1. Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar
  Dalam kurikulum KTSP, pada latar belakang mata pelajaran Matematika untuk Sekolah Dasar disebutkan bahwa dalam setiap kesempatan, pembelajaran Matematika hendaknya dimulai dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi ( contextual problem). Dengan mengajukan masalah konstektual, peserta didik secara bertahap dibimbing untuk menguasai konsep Matematika. Untuk meningkatkan keefektifan pembelajaran, sekolah diharapkan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi seperti komputer, alat peraga, dan media lainnya.
Adapun tujuan pembelajaran Matematika sesuai dengan kurikulum KTSP yaitu:
1. Memahami konsep Matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah.
2 Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi, Matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan Matematika.
3. Memecahkan masalah yang meliputi kemapuan memehami masalah,    merancang model Matematika, menyelesaikan model, dan menafsirkan solusi yang diperoleh.
4.  Mengkomunikasikan gagasan dengan symbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah.
5. Memiliki sikap menghargai kegunaan Matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari Matematika serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.

Ruang lingkup mata pelajaran Matematika pada satuan pendidikan SD/MI menurut KTSP meliputi aspek;
1. Bilangan
2. Geometri dan pengukuran
3. Pengolahan data
     
2. Permasalahan Pembelajaran Matematika di SD
Permasalahan mengenai Pembelajaran  Matematika di SD telah banyak diperbincangkan banyak pihak. Permasalahan pengajaran Matematika di SD yang klasik adalah rendahnya prestasi belajar matematika siswa SD. Supriyoko (Fasilitator 2004:), menyatakan bahwa prestasi matematika SD memang belum memuaskan, untuk tidak menyatakan menyedihkan. Pada tingkat lokal sesekali dilaksanakan lomba Matematika antar siswa; dan hasilnya banyak yang belum menggembirakan. 
Rendahnya prestasi belajar siswa tersebut timbul dari bebarapa sudut, misalnya dari murid, guru, media pembelajaran, kurikulum, dan lingkungan siswa. Berangkat dari akar permasalahan penyebab rendahnya prestasi belajar siswa ini maka upaya meningkatkan prestasi belajar siswa dapat ditempuh dengan memperbaiki proses pembelajaran Matematika dengan memperhatikan berbagai aspek terkait dengan pembelajaran Matematika, misalnya aspek guru, kurikulum, media, lingkungan anak, dan aspek siswa sendiri.
Lebih khusus tentang penyebab kesulitan belajar Matematika ini Herry Sukarman (Fasilitator, 2004: 49) mengungkapkan bahwa praktek penyelenggaraan PBM Matematika belum optimal.  Beberapa faktor pendukung pendapat ini didasari atas beberapa hal, antara lain :
- Penggunaan variasi metodologi dalam pembelajaran yang masih bersifat                                berpusat pada guru.
- Kurang memanfaatkan alat peraga dalam menanamkan konsep-konsep Matematika.
- Kaidah-kaidah diktaktik seperti asas apersepsi, peragaan, belajar aktif, kerja sama, mandiri, korelasi, penyesuaian dengan individu, ulangan yang teratur belum dilaksanakan dengan baik oleh sebagian guru.
- Pengelolaan PR yang belum optimal dilakukan jajaran pendidik. 
Sifat pembelajaran Matematika yang materi bahasannya bersifat abstrak juga menjadi salah satu penyebab kesulitan belajar pada mata pelajaran Matematika. Kesulitan anak ini berakibat apada  rendahnya keberhasilan pembelajaran Matematika.
 Untuk mengatasi sifat abstrak dari pembelajaran Matematika ini dapat ditempuh dengan penggunaan media pembelajaran. Media pembelajaran yang relatif mudah didapat maupun dibuat adalah alat peraga Matematika. Dengan penggunaan alat peraga ini diharapkan dapat membantu mengatasi kesulitan belajar Matematika yang dialami peserta  didik.  
       
3. Alat Peraga dalam Pembelajaran Matematika di SD
Kesulitan belajar siswa pada pembelajaran Matematika disebabkan banyak aspek. Salah satu yang menjadi penyebab kesulitan belajar tersebut adalah sifat Matematika yang abstrak. Dalam psikologi perkembangan anak usia SD termasuk dalam usia memasuki tahap operasional konkrit. Piaget (Mulyani Sumantri dan Nana Saodih: 2006:1.15) mengemukakan bahwa proses berpikir anak sampai mampu berpikir seperti orang dewasa melalui empat tahap perkembangan, yaitu :  Tahap sensori motor (0-2), tahap praoperasional (2-7), tahap operasional konkrit (7-11), dan tahap operasional formal ( 11-15). 
Sesuai dengan tahap perkembangan kognitif seperti yang dikemukakan Piaget tersebut di atas,  anak usia SD akan mengalami kesulitan jika dihadapkan pada materi bahasan yang bersifat abstrak sebagaimana materi bahasan pada mata pelajaran Matematika. Untuk membantu siswa memahami materi pembelajaran yang bersifat abstrak seperti matematika dapat dilakukan dengan penggunaaan alat peraga. Seperti yang dikemukakan Moh. Uzer Usman ( Masrukun, 2004: 31) bahwa alat peraga pembelajaran adalah alat-alat yang digunakan guru dalam pembelajaran untuk membantu memperjelas materi pelajaran dan mencegah terjadinya verbalisme pada diri siswa. 
Mengenai fungsi alat peraga menurut Masrukun (2004: 31) menyebutkan alat peraga berfungsi sebagai ;
a.  memberikan motifasi belajar;
b. memberikan variasi dalam pembelajaran;
c. mempengaruhi daya abtraksi, dan
d. memperkenalkan, memperbaiki, dan meningkatkan pengertian konsep dan fakta.
Dari beberapa fungsi yang telah diungkapkan tersebut pada fungsi memberi motivasi belajar, alat peraga akan memberikan rasa senang pada anak untuk mempelajari Matematika. Siswa bersemangat untuk belajar Matematika. Hal ini karena dengan penggunaaan alat peraga, Matematika begitu nampak lebih konkrit dan begitu mudah dipahami. Dengan semangat dan perasaan senang mempelajari Matematika maka diharapkan keberhasilan belajar  Matematika akan meningkat. Sehubungan dengan fungsi alat peraga ini lebih lanjut Masrukun ( 2004: 32) mengemukakan bahwa pembelajaran Matematika dengan menggunakan alat peraga selain akan membuat siswa mudah memahami materi yang dipelajari, juga akan meningkatkan kadar aktifitas siswa, pembelajaran menjadi aktif dan menyenangkan.
Pembelajaran yang menyenangkan menjadikan siswa berperan aktif. Keaktifan siswa nantinya turut menentukan keberhasilan pembelajaran, sebagaimana yang diungkapkan oleh Rusli Ibrahim(2001:29) Semua pendidik mengakui, kegembiraan memegang peranan penting dalam proses belajar.
Mengenai alat peraga yang sesuai untuk pelajaran Matematika Masrukun (2004: 31) mengungkapkan bahwa pendayagunaan alat peraga Matematika dapat dilakukan dengan memanfaatkan lingkungan, seperti manusia (guru, siswa), peristiwa, benda-benda lain, di samping itu alat peraga yang sudah didesain. Dari pendapat ini memberi gambaran bahwa alat peraga Matematika dapat diperoleh dengan memanfaatkan potensi yang ada di sekeliling kita, baik yang sudah ada atau bisa dibuat sendiri oleh guru sesuai dengan kebutuhan. 
Guru sebagai salah satu dari unsur PBM di kelas dituntut untuk memanfaatkan alat peraga yang telah ada disekolah. Jika dirasa kurang, guru dituntut untuk mampu membuat sendiri alat peraga yang dibutuhkan dengan disesuaikan dengan materi pelajaran. Dalam rangka membuat alat peraga ini tentunya tetap berpijak pada materi pelajaran dan taraf perkembangan siswa. Jika memungkinkan maka alat peraga ini dapat dibuat bersama-sama siswa sehingga alat peraga ini lebih bermakna bagi siswa.
    
4. Tabel Perkalian 2-9 sebagai Alat Peraga Pembelajaran Pembagian cara Besusun 
Sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif anak, Anak Kelas IV SD masih mengalami kesulitan untuk memahami materi pembelajaran yang bersifat abstrak.  Berdasar karakteristik siswa tersebut maka perlu upaya untuk selalu mengusahakan penggunaan media/alat peraga dalam setiap proses pembelajaran Matematika di kelas IV SD. Untuk keperluan memenuhi macam, ragam, dan jenis alat peraga yang sesuai dengan materi bahasan,  guru dapat mempergunakan media/alat peraga yang telah tersedia atau dapat membuat sendiri alat peraga yang akan digunakan. Pembuatan alat peraga dapat dilakukan dengan menciptakan alat peraga baru atau mengembangkan/memodifikasi dari alat peraga yang sudah ada. Pembuatan alat peraga disesuasikan dengan materi pembelajaran dan tingkat perkembangan siswa.
Dalam rangka terpenuhinya kebutuhan alat peraga Matematika, pada kesempatan ini penulis menyampaikan sebuah alat peraga buatan penulis yang penulis kembangkan dari alat peraga yang sudah ada yaitu alat peraga tabel perkalian 1-10. Alat peraga ini penulis pergunakan untuk menyampaikan materi pembelajaran  pembagian dengan cara bersusun. 
Alat peraga yang penulis sampaikan  ini penulis beri nama Tabel Perkalian 2-9.  Adapun karakteristik alat peraga ini adalah sebagai berikut;
1)   Terbuat dari papan triplek Melamin berukuran 120 x 50 cm.
2) Berisi tabel perkalian, yang terdiri dari angka 1-9  untuk  kolom vertikal dan angka 2-9 untuk lajur horisontal atau mendatar.
3) Pada tiap lajur mendatar, setiap lajur berisisi deretan  bilangan yang merupakan  kelipatan dari 2 sampai 9. Deretan angka tersebut tertutup bilah papan dan dapat dibuka jika diperlukan. Tujuannya adalah agar perhatian siswa lebih terfokus pada lajur yang terbuka itu, karena hanya memerlukan deretan kelipatan bilangan dari lajur yang terbuka itu.   
4) Terdapat alat penunjuk yang dapat digeser ke kanan dan ke kiri pada deratan bilangan pada lajur mendatar untuk menemukan sebuah bilangan yang diperlukan dari lajur itu. 
5) Terdiri dari dua bagian, yaitu bagian kiri berisi table dan bagian kanan temapat mengerjakan pembagian cara bersusun dengan spidol.
Untuk lebih memperjelas karakteristik sebagaimana  yang telah diuraikan diatas, maka  dibawah ini ditampilkan foto alat tersebut. 
1)  Gambar 1 :  Tabel Perkalian 2-9  tampak depan dalam keadaan tertutup.

2)  Gambar 2 :  Tabel Perkalian 2-9  tampak depan dalam keadaan terbuka 
  secara keseluruhan.


3)  Gambar 3:  Tabel Perkalian 2-9 dalam keadaan terbuka hanya pada salah satu    
lajur,  yaitu pada lajur angka 8 ( digunakan dalam pembagian 
dengan bilangan pembaginya adalah bilangan 8 ).


Tabel perkalian 2-9 ini digunakan untuk pembelajaran pembagian cara bersusun. Dengan ketentuan bilangan pembagi terdiri dari satu angka, sedangkan bilangan terbagi adalah bilangan bulat,   misalnya  48 : 4 = ..... ,   288 : 9 = .....,   921 : 3 = .....,  dan sebagainya.
Sebelum lebih jauh mengupas tentang tata cara penggunaan alat peraga ini, perlu penulis tekankan bahwa alat peraga ini sekedar membantu  mempercepat siswa memahami langkah-langkah pembagian cara bersusun. Selama  menggunakan alat peraga ini, guru harus selalu menekankan kepada siswa untuk memahami pembagian bilangan tanpa tergantung pada alat peraga ini. Sehingga nantinya siswa mampu melakukan pembagian cara bersusun dengan cepat tanpa bantuan alat peraga  lagi. 
Adapun contoh penggunaan alat peraga ini adalah sebagai berikut ;
1) Misal untuk  soal pembagian,  48 : 4 = ......   
Dikerjakan dengan cara bersusun menggunakan  alat peraga dengan langkah sebagai berikut :
Gambar 4 : Tabel Perkalian 2-9 terbuka pada lajur angka 4
       
     

Pada alat peraga, buka bilah papan dengan cara geser ke kanan sehingga nampak deretan kelipatan  bilangan 4 atau hasil perkalian bilangan 4 dengan bilangan 1-9, seperti pada gambar 4 di atas. Adapun langkah pemakaian alat peraga sebagai berikut;
Gambar  5 : Letak alat penunjuk  pada bilangan 4.

- untuk mengetahui hasil pembagian dari 4 : 4  dengan cara geser dan letakkan    alat penunjuk  pada bilangan  4 dari deretan bilangan  tersebut (gambar 5),  lihat angka pada pangkal ujung alat penunjuk, pangkal alat penunjuk terletak  angka 1, maka dengan cepat terlihat bahwa 4 : 4 = 1 sisa nol.
- untuk mengetahui hasil pembagian dari angka 8 : 4 dengan cara geser alat penunjuk dan temukan bilangan  8 pada deretan bilangan tersebut, hentikan alat penunjuk pada bilangan 8 seperti pada gambar 6 dibawah ini.  Lihat angka pada pangkal alat penunjuk,  pangkal alat penunjuk  terletak pada  angka 2, maka dengan cepat diketahui  bahwa 8 : 4 = 2 sisa nol.


Gambar 6 : Letak alat penunjuk pada bilangan 8. 

- Jadi 48 : 4 = 12.   
2.  Contoh penggunaan untuk pembagian  288 : 9 = ........
Buka bilah penutup deretan lajur angka 9 mendatar seperti gambar 7. di bawah ini.
Gambar 7: Tabel Perkalian 2-9 terbuka hanya pada lajur angka 9.

Adapun langkah penggunaan alat, adalah sebagai berikut :
- Geser alat penunjuk  ke kanan untuk menemukan bilangan  28,  pada deretan itu tak ditemukan bilangan 28 karena 28 bukan bilangan kelipatan 9. Bilangan  28 terletak diantara  bilangan  27 dan bilangan  36.  Maka tempatkan alat penunjuk  pada angka 27 (bilangan yang kurang dari 28) seperti pada gambar 8 di bawah ini. Lihat pangkal alat penunjuk  terletak pada angka 3, dengan demikian 28 : 9 = 3, sisa 1.

Gambar 8 : Alat penunjuk pada tabel perkalian 2-9 terletak pada bilangan 27.

- Geser alat penunjuk dan temukan bilangan  18, hentikan alat penunjuk  pada bilangan  18 seperti terlihat pada gambar 9  dibawah ini,  
Gambar  9 : Alat penujuk  pada tabel perkalian 2-9 terletak pada angka l8

Lihat pangkal alat penunjuk , pangkal alat penunjuk  terletak  pada  angka 2. Jadi 18 : 9 = 2 sisa 0. Dengan demikian  288 :  9 =   32.
3. Untuk lebih memperjelas penggunaan alat peraga ini, sekali lagi penulis ambilkan contoh pembagian 921 : 3 = .......
- Buka bilah penutup deretan lajur angka 3 mendatar seperti tampak pada gambar dibawah ini. 





Gambar 10 : Tabel perkalian 2-9 terbuka pada lajur angka 3.


- Geser alat penujuk  hingga temukan bilangan 9 dan hentikan alat penujuk  pada bilangan 9 tersebut, seperti terlihat pada gambar  11 di bawah ini.  Lihat pangkal alat penunjuk, pangkal alat penunjuk  terletak pada angka 3, maka 9 : 3 = 3  sisa nol.
Gambar 11 : Alat penunjuk terletak pada bilangan 9 
  

- Geser alat penunjuk  dan temukan bilangan 2, dideretan bilangan  tidak ditemukan bilangan 2 karena 2 bukan bilangan kelipatan 3, bilangan terkecil adalah 3. 
Gambar  12 : Alat penunjuk  tak menemukan bilangan yang dicari. 

   Berarti  2 tidak mencukupi untuk dibagi 3. tulislah 0 pada tempat jawaban kemudian turunkan 1 angka lagi yaitu 1, sehingga didapat bilangan 21.
- Geser alat penunjuk  dan temukan bilangan 21. Hentikan alat penunjuk  pada bilangan 21 dan lihat pangkal alat penunjuk  terletak pada angka 7 seperti terlihat pada gambar 13 di bawah ini. Dengan demikian 21  : 3 adalah 7 sisa nol. 
Gambar 13 : alat penunjuk  terletak pada bilangan 21 

- Dengan demikian  921 : 3 = 307
Alat peraga ini nantinya tidak hanya sebatas digunakan pada bilangan terbagi yang terdiri 2 angka,3 angka,  atau  4 angka saja tetapi dapat digunakan untuk membagi bilangan terbagi yang terdiri lebih dari 4 angka,  misal 15.492 : 6  = ........  dan sebagainya.
Alat peraga ini juga dapat digunakan untuk menjelaskan pembagian dengan bilangan pembagi terdiri dari 2 angka atau lebih (selain bilangan prima ),  misal 1.120:35 = .......... Adapun langkahnya dengan mengubah pembagian tersebut menjadi  pembagian bertahap  dengan memecah bilangan pembagi menjadi 5 dan 7 jadi pembagian itu akan berubah menjadi 1.120 : 5 : 7= .... setelah itu kerjakan satu persatu seperti contoh diatas. 
Akan tetapi untuk membatasi   lingkup bahasan pada  penelitian  ini,  pembagian bilangan dalam penelitian ini membatasi diri hanya sampai pada pembagian dengan bilangan terbagi yang terdiri dari 4 angka dan bilangan pembagi terdiri dari 1 angka saja.


METODOLOGI PENELITIAN
A.  Desain Penelitian 
Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan dalam bentuk penelitian tindakan kelas. Peneliti sebagai guru kelas dalam penelitian ini berperan sebagai guru sekaligus sebagai peneliti.
Tujuan akhir yang ingin dicapai dari penelitian tindakan kelas adalah meningkatkan kualitas praktik pembelajaran disekolah, relevansi pendidikan, mutu pendidikan, dan efisiensi pengelolaan pendidikan. Khususnya peningkatan keberhasilan pembelajaran pembagian cara bersusun. 
Penelitian ini dilaksanakan dengan beberapa siklus dan setiap siklus terdiri dari beberapa langkah,  yaitu:
1.  Perencanaan
2.  Tindakan dan Pengamatan
3.  Refleksi
Untuk lebih jelasnya langkah tersebut dapat jelaskan sebagai berikut :
1. Adapun rencana tindakan pada penelitian tidakan kelas ini adalah meningkatkan   keberhasilan belajar pembagian cara bersusun.
2. Tindakan dan pengamatan dalam penelitian ini adalah upaya agar terjadi perubahan dan mendorong siswa untuk belajar pembagian cara bersusun. Sedangkan pengamatan dilakukan dengan terhadap hal berikut :
a.  Ketertarikan siswa dalam proses belajar-mengajar menggunakan alat peraga tabel Perkalian 2-9.
b.   Dorongan atau motifasi siswa untuk belajar.
c. Peningkatan hasil belajar pembagian cara bersusun pendek sebagai dampak adanya pemahaman konsep.
3. Refleksi pada penelitian ini dilakukan penulis dengan mengkaji dan mempertimbangkan hasil atau dampak dari tindakan dengan memperhatikan kreteria yang telah ditetapkan untuk revisi atau perbaikan pada aspek perencanaan untuk siklus selanjutnya.
B.  Subyek dan Setting Penelitian
1.  Subyek penelitian
Subyek penelitian ini adalah siswa kelas IV SD Sumberejo, tahun ajaran 2008/2009.
Jumlah siswa ada 22, terdiri dari anak laki-laki 15 anak dan anak perempuan 7 anak.
2. Tempat Penelitian 
Penelitian dilakukan di kelas IV SD Sumberejo, Semin, Gunungkidul, Yogyakartaa.
3. Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan selama 2 bulan dari bulan Juli sampai Agustus 2008.
4. Peneliti berperan sebagai guru sekaligus peneliti
Kolaborator PTK adalah guru SD Sumberejo.
C.  Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah  metode tes dan observasi.

1.   Metode Tes
Tes yang penulis gunakan untuk mengetahui pencapaian hasil belajar pembagian cara bersusun adalah tes tertulis yang disampaikan pada awal dan akhir pembelajaran pada setiap siklus.
 2.  Metode Observasi
Dalam penelitian ini penulis menggunakan observasi sistematis yaitu observasi yang berpedoman pada instrumen penelitian yang mengungkap peningkatan perhatian anak terhadap pembelajaran Matematika melalui alat peraga tabel perkalian 2-9 ini.

D. Instrumen Penelitian 
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1. Lembar Tes
Lembar tes terdiri dari pretes dan postes untuk masing-masing siklus. Pada siklus I  digunakan lembar pretes dan postes tentang pembagian bilangan bulat cara bersusun  dengan bilangan terbagi terdiri dari 2 angka dan bilangan pembagi terdiri dari satu angka. Pada siklus II digunakan lembar pretes dan postes tentang pembagian bilangan bulat cara bersusun  dengan bilangan terbagi terdiri dari 3 angka dan bilangan pembagi terdiri dari satu angka. Sedangkan pada Siklus III digunakan lembar pretes dan postes tentang pembagian bilangan cara bersusun  dengan bilangan terbagi terdiri dari 4 angka dan bilangan pembagi terdiri dari satu angka.
2. Lembar Observasi
Pedoman observasi berisi daftar jenis kegiatan yang diamati, dalam proses observasi pengamat tinggal memberikan tanda chek lis ( √ ) pada kolom pengamatan tempat suatu peristiwa muncul. Adapun kisi-kisi dalam penelitian ini adalah perhatian siswa terhadap pembelajaran pembagian cara bersusun dengan alat peraga papan tabel perkalian 2-9.
Tabel 1. Kisi-kisi observasi Perhatian siswa
No Aspek Yang Dinilai Kurang Cukup Baik
1 2 3
1. Memperhatikan penjelasan guru
2. Mencatat penjelasan guru
3. 1. Mengerjakan tugas
4. Aktif dalam mengerjakan tugas kelompok
E. Validasi instrumen
 Untuk menguji validitas dari instrumen penelitian  yang digunakan, penulis menggunakan validasi sejawat. Instrumen penelitian yang berupa lembar tes dan lembar observasi dinilai oleh teman sejawat yang dalam hal ini adalah rekan-rekan guru SD Sumberejo. Dengan tujuan, menilai apakah lembar tes dan soal yang digunakan telah sesuai dengan standar soal untuk anak SD kelas IV.
F. Teknik Analisa Data 
Data dalam penelitian ini diperoleh melalui tes untuk mengungkap penguasaan konsep operasi hitung pembagian cara bersusun  dan teknik observasi untuk mengetahui perhatian siswa terhadap pembelajaran Matematika melalui penggunaan alat peraga tabel perkalian 2-9. 
Observasi dilakukan selama pembelajaran berlangsung. Analisis data menggunakan deskriptif kualitatif dengan presentase. Adapun rumus yang digunakan adalah ;
        F
P = ─ x 100 %
       N

Keterangan :
p : Angka prosentase
f : Frekeunsi yang dicari prosentasenya
N: Number of Case 

Data penelitian yang telah terkumpul dianalisa secara diskriptif dengan prosentase, selanjutnya diinterprestasikan dengan kalimat. Kesimpulan yang dihasilkan dalam proses pembelajaran ini adalah baik, cukup, dan kurang. Penentuan status menggunakan interval sebagai berikut:
80-100 % : Baik
60-79 % : Cukup
≤  59 % : Kurang
Hasil tes dianalisa secara diskriptif dengan interval, selanjutnya diinterprestasikan dengan kalimat. Kesimpulan hasil  dari pembelajaran ini adalah sangat baik, baik, cukup, kurang, dan sangat kurang. Penentuan interval nilai tes adalah
86 – 100 : sangat baik
71 – 85 : baik
56 – 70 : cukup
41 – 55 : kurang
≤ 40 : Sangat kurang
  (Buku Rapor Siswa )
G. Indikator Keberhasilan
Pada akhir penelitian penulis mentargetkan :
1. Peningkatan penguasaan konsep operasi hitung pembagian cara bersusun,
    menggunakan instrumen tes dengan hasil baik atau sangat baik.
2. Peningkatan perhatian siswa terhadap pembelajaran Matematika dengan alat 
    peraga tabel perkalian 2-9, dengan perolehan kreteria baik.

0 Response to "PENGGUNAAN PERAGA TABEL PERKALIAN 2 SAMPAI 9"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel